About Andika Hendra Mustaqim

March 30, 2014

Ekonomi Syariah Paling Menguntungkan!

Oleh Andika Hendra Mustaqim

Dalam buku Ekonomi Sufistik, karya Muhammad Gunawan Yasni, “mungkin kita, Muslim Indonesia, sebaiknya belajar pada banyak guru untuk mengawal kebangkitan ekonomi syariah  dalam upaya menyembuhkan luka bangsa, terutama dalam menanta kembali perekonomian yang pernah tajam terpuruk.” Selepas membaca buku itu, saya sunggu malu ketika Islam sebagai mayoritas justru tak mampu berbuat banyak. Padahal, kita memiliki prinsip yang mengajarkan keadilan, yakni ekonomi syariah.

Ketika berguru kepada orang yang tepat, saya kira umat Islam harus kembali kepada maha guru Nabi Muhammad. Beliau yang memberikan risalah terbaiknya. Termasuk dalam risalah ekonomi syariat. Ternyata ajaran ekonomi syariah yang diajarkan Nabi Muhammad sungguh menyenangkan. Kenapa dan bagaimana ekonomi syariah itu menyenangkan, saya akan mengupasnya.

Pertama, ekonomi syariah  itu bagian integral yang tidak dapat dipecahkan dalam konsep syariat Islam. Syariat Islam bukan hanya menyangkut fikih yang mengatur ibadah. Ekonomi syariah juga menjadi satu kesatuan dalam Syariat. Itu disebabkan Islam merupakan agama yang sempurna, mengatur dari manusia bangun tidur hingga tidur kembali. Dalam hal bermualamah di pasar, umat Islam juga sudah memiliki panduan. Sehingga mereka tidak salah dan terjebak dalam kezaliman dan kemaksiatan dalam berdagang dan menjalankan ekonomi dalam keseharian. Ekonomi syariah pun mampu menyelamatkan umat baik di dunia dan di akherat.

Kedua, ekonomi syariah  juga dapat menjadi keseharian umat Islam, sama seperti salat lima waktu. Ketika umat Islam mampu menjalankan salat lima waktu, menyebut nama Allah sebanyak ribuan kali dalam sehari, dan bersalawat kepada Nabi Muhammad sebanyak ratusan kali, kenapa mereka enggan melaksaanakan ekonomi . Padahal, ekonomi syariah merupakan bagian dari keseharian umat.

Jauhnya masyaarakat Islam di Indonesia dari ekonomi syariah  disebab kan karena mereka menganggap kalau bermualamalah dalam membangun ekonomi syariah bukan suatu hal yang penting. Pandangan yang salah itu perlu diluruskan. Ibadah yang bersifat hubungan dengan Allah dan hubungan dengan manusia haruslah seimbang.

Ketiga, ekonomi syariah itu menyenangkan karena membangun persatuan umat. Islam identik dengan perpecahan, banyak yang berkata seperti itu. Saya pikir salah. Hanya karena perbedaan subuh tanpa qunut dan harus pakai qunut, umat Islam saling berjauhan. Hanya karena partai yang berbeda aliran, umat Islam saling bermusuhan. Hanya karena perbedaan mahzab, umat Islam saling mencela.

Saya pikir, ada satu cara paling menyenangkan untuk mendekatkan umat Islam yang terpecah di Indonesia. Satu-satunya jalan adalah ekonomi Islam. Saya kira tidak ada perbedaan yang menonjol dalam memandang ekonomi Islam. Mereka memiliki satu pandangan untuk memajukan umat Islam, melalui ekonomi Islam. Dengan Ekonomi syariah  dijalankan dan dilaksanakan oleh seluruh umat Islam, maka mereka akan bersatu. Ketika dapat bersatu, maka umat Islam tak dapat dikalahkan dan tak dapat dipecahbelah.

Pendapat saya itu dibenarkan oleh Merza Gamal dalam bukunya berjudul “Aktivitas ekonomi syariah: catatan dakwah seorang praktisi perbankan syariah”. Merza mengungkapkan “Al Quran sebagai pegangan hidup umat Islam telah mengatur kegiatan bisnis secara eksplisit, dan memandang bisnis sebagai sebuah pekerjaan yang menguntungkan dan menyenangkan”.

Muhammad Ayub dalam bukunya Understanding Islamic Finance mengungkapkan, studi terhadap ajaran Al Quran dan Sunah menuntut kita pada beberapa prinsip dasar sistem ekonomi Islam yang mendukung perkembangan umat manusia, menegakkan keadilan, menghentikan eksploitasi dan cenderung membentuk masyarakat berisi serta menyenangkan yang dapat disebut masyarakat sejahtera dalam arti yang sesungguhnya. Benar kan kalau ekonomi syariah merupakan pilihan yang menyenangkan. Itu tak dapat diragukan lagi.

 Menguasai Pasar, Strategi Utama dan Pertama Ekonomi syariah

Untuk mencapai ekonomi syariah yang menyenangkan, menurut saya, yang pertama kali mendapat perhatian adalah penguasaan pasar. Selama ini, pasar dikuasai oleh kalangan bukan Islam. Sungguh menyedihkan ketika umat Islam justru hanya menjadi konsumen, bukan sebagai produsen atau pedagang.

Berkaca pada perekonomi di masa Nabi Muhammad, beliau memperhatikan penuh kondisi pasar di Madinah. Dia selalu menjadikan acuan kalau pasar menjadi indikator pembangunan di masa Nabi Muhammad. Ketika pasar ramai, maka ekonomi masih bergeliat. Tetapi kalau pasar mati, maka ekonomi juga akan tenggelam. Perhatian Nabi Muhammad terhadap pasar menjadikan umat Islam harus memandang pasar sebagai penggerak perekonomian umat Islam.

Seperti diungkapkan Nizar Abazhah dalam bukunya berjudul “Ketika Nabi di Kota”, pasar dapat menjadi indikasi kemandirian dan otonomi sekaligus pembebasan kaum muslim dari hegemoni pasar Yahudi di zaman Yahudi. Pasar Madinah terus berjalan dan para sahabat menjadi pelaku pasar yang teguh memegang kebenaran dan hukum Tuhan dalam segala bentuk transaksi yang mereka lakukan.

Untuk dapat menjalankan ekonomi Islam, umat harus menguasai pasar. Untuk menaklukkan pasar, ada beberapa hal yang harus dilakukan umat Islam.

Pertama, ekonomi syariah sebenarnya sangat mudah diaplikasikan dalam kehidupan pasar di Indonesia. Jika semua pedagang Islam di Indonesia berlaku jujur, saya kira semua pelanggan akan tetap mengantre. Kejujuran akan menyenangkan bagi pedagang dan pelanggan. Tapi korupsi justru akan menyengsarakan pedagang dan pelanggan. Ketika ada kejujuran, maka di situ juga terdapat kepercayaan atau amanah. Siapapun yang orang jujur pasti akan menjaga amanah. Keduanya tak bisa dilepaskan.

Seperti diungkapkan oleh Afzalul Rahman dalam buku “Muhammad A Trader” tercatat bahwa Nabi Muhammad adalah seorang  pedagang yang jujur dan adil  dalam membuat perjanjian bisnis. Itu menunjukkan kalau Nabi Muhammad menunjukkan rasa tanggung jawab yang besar dan integritas yang tinggi dengan siapapun.

Kedua, umat Islam harus bervisi jangka panjang ketika menguasai pasar. Bukan hanya pasar di tingkatan lokal semata. Sebelum ekspan, kita harus lebih kuat di tataran lokal. Tetapi harus meluaskan jangkauan ke pasar internasional. Ingatlah, ekspansi Ekonomi syariah harus mampu menghegemoni umat lainnya. Saat ini, kita justru menjadi korban hegemoni dari umat laainnya. Parahnya lagi, kita hanya menjadi penonton yang tak berdaya. Padahal, Islam telah memberikan petunjuk yang sangat jelas tentang etika, aturan, target dan seluk beluk dalam berekonomi.

Ketiga, membangun jaringan yang kuat. Kekuatan Ekonomi syariah terletak dalam membangun jaringan di tingkat lokal, nasional dan internasional. Dengan jaringan maka pelebaran sayap akan menjadi lebih mudah dan tidak banyak menghadapi banyak kendala. Jaringan itu mampu memberikan kekuatan berupa kolaborasi yang kuat. Kerjasama antara umat Islam di berbagai belahan membuat pasar dapat dikuasai dengan mudah oleh umat Islam.

Keempat, pasar harus diatur oleh regulasi yang kuat dan regulator yang konsisten. Tanpa pemantauan sangat mustahil ekonomi syariah akan bangkit. Dalam buku karya Nizar Abazhah, berjudul “Ketika Nabi di Kota” mengungkapkan kalau Nabi Muhammad tidak membiarkan pasar berjalan tanpa pantauan. Di samping turun tangan langsung dan mengawasi sendiri, beliau menunjuk Sa’d ibn Sa’id ibn Al-‘Ash untuk mengawai pasar Makkah setelah penaklukkan.

Kelima, harga komoditas di pasar diatur oleh Allah, bukan oleh pedagang. Nabi Muhammad juga melarang harga komoditi di pasar mencekik. Seperti diungkapkan Anas ibn Malik bertutur, “Pernah pada masa Nabi harga komoditi di pasar Madinah melambung tinggi. Orang-orang mengeluh, ‘wahai Rasullah, harga barang sangat mahal, tetapkanlah harga untuk kami.’ Rasullah menjawab, ‘Sesungguhnya Allah-lah yang menetapkan harga. Dialah yang menahan, melimpahkan, dan menganugerakhan rezeki. Kuharap kelak ketika aku menghadap Tuhan, tak sesorang pun diantara kalian menuntutku lantaran merasa dizalimi menyangkut darah dan harta.”

Dengan demikian, maka pedagang Muslim dilarang memainkan harga. Mempermainkan harga merupakan suatu kezaliman. Dipastikan kalau penipuan, pemalsuan, penimbunan dilarang. Selain itu, Untuk memastikan nilai-nilai di atas, Rasûlullâh  mengawasi langsung berjalannya pasar. Beliau melarang berbagai model bisnis yang bertentangan dengan islam seperti hashah (dengan melempar batu), najasy (kegiatan jual beli yang bertujuan mengelabui pembeli atau penjual), ghaban faa hisy (menjual diatas harga pasar), tallaqi rukhban (egiatan pedagang dengan cara menyongsong pedagang desa yang membawa barang dagangan di jalan (menuju pasar)), mukhadarah (menjualbelikan buah-buahan yang belum pantas untuk dipanen), dan ikhtikar (mengambil keuntungan di atas keuntungan normal dengan cara menahan barang untuk tidak beredar di pasar supaya harga-nya naik).

Sungguh menyenangkannya ekonomi syariah . 

Advertisements

May 3, 2013

RAJA WILLEM-ALEXANDER BEDA!

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , , — guruandikahendra @ 3:08 am

Image

Willem-Alexander pada Selasa (30-April) lalu dilantik menjadi Raja Belanda. Selamat kepada seluruh rakyat Belanda yang memiliki raja baru setelah 123 tahun lamanya dipimpin oleh terus oleh ratu. Terus terang, aku sangat memberikan kepedulian dan perhatian penuh dalam kejadian tersebut. Bagiku itu sama pentingnya seperti pernikahan Pangeran William dengan Kate Middleton yang ditonton jutaan orang di Inggris secara langsung dan miliaran orang di dunia melalui stasiun televisi.

Bagiku, meski Kerajaan Belanda kalah pamor dibandingkan Kerjaan Inggris yang selalu disorot media internasional, namun Kerjaan Belanda sebenarnya lebih humanis dan memasyarakat dibandingkan dengan kerajaan lain di dunia. Buktinya, dalam pelantikan Willem-Alexander menjadi raja hanya bersifat seremonial dan itu disumpah dan dilaksanakan di gedung parlemen. Perayaan pun meriah, tetapi tidak megah.

Fokus dalam tulisan ini bakal menyinggung lebih banyak tentang Raja Willem-Alexander yang menjadi pangeran pertama yang menjadi ahli dalam manajemen air. Biasanya, seorang pangeran didik menjadi seorang tentara yang hebat. Dikirim ke medan perang agar layak mendapatkan gelar sebagai pahlawan. Sejak menjadi Putra Mahkota Kerajaan Belanda, Willem-Alexander memang pernah menjadi tentara. Namun, selepas kuliah sejarah di Leiden University, Willem-Alexander lebih memiliki menjadi pakar manajemen air. Keren bukan?

Berdasarkan penulusuran saya di dunia maya dan bertanya dengan orang yang terbiasa dengan dunia manajemen air, Willem-Alexander memang satu-satunya pakar manajemen air dari kalangan keluarga kerajaan. Dia juga bekerja secara professional dalam bidangnya. Meskipun dia sudah memiliki masa depan yang cerah, sejak menjadi professional, dia sudah berkecimpung dengan para pakar dan pegawai tanpa harus malu-malu menyembunyikan identitasnya sebagai keluarga kerajaan.

Pada 2000, Willem-Alexander memimpin Komisi Manajemen Air Terintegrasi Belanda dan menjadi Komite Pengawasan Air pada 2004. Salah proyek prestisius yang ditanganinya adalah Program Delta yang menjadikan Belanda tetap aman dari dampak buruk perubahan iklim. Program itu meliputi pencegahan banjir dan manajemen efesiensi air.

Keahlian dan kepakarannya dalam manajemen air bukan hanya memberikan manfaat bagi Belanda, Willem-Alexander juga menyumbangkan pemikirannya bagi dunia sejak 1997. Bahkan, Willem-Alexander merupakan anggota kehormatan Komisi Dunia untuk Air pada abad 21 dan tokoh penting dalam Kemitraan Air Global.

Selain profesionalitas dalam manajemen air, aku kagum dengan Raja Willem-Alexander itu karena membuang jauh-jauh protokoler yang menyulitkan dia berkomunikasi dengan rakyatnya. Dalam penyebut, Yang Mulai, Willem-Alexander saja menyerahkan kepada rakyatnya bakal memanggil apa yang mereka inginkan.

“Saya bukan berpegang teguh kepada protokol,” katanya kepada Dutch TV. “Hal terpenting bagi saya adalah ketika rakyat merasa senang ketika saya bersama dengan mereka,” dikutip BBC News.

 

Willem-Alexander berjanji rakyat bisa mengandalkannya sesuai harapan mereka sehingga mereka bisa merasa nyaman. “Saya ingin menjadi raja yang mengikuti tradisi dan mempersatukan, mewakili dan mendorong masyarakat,” tegasnya. Dia juga berjanji kalau kerjaan bakal bergerak bersama masyarakat.

Sumber:

http://www.hollandtrade.com/media/features/special-reports/investiture/?bstnum=5226

http://www.government.nl/issues/water-management/news/2008/09/25/new-dutch-british-alliance-in-battle-for-clean-drinking-water.html

http://www.bbc.co.uk/news/world-europe-22279240

Foto:

Dailymail.co.uk

RINDU RANESI

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , , , — guruandikahendra @ 3:04 am

Image

Pada Jumat sore. Seingatku 29 Juni 2012. Saat bersantai di rumah, aku memilih mendengarkan radio. Seperti biasa, aku memilih  Radio Nederland (RNW) siaran Bahasa Indonesia. Terus terang, saat itu aku sangat terkejut karena mendengarkan kabar kalau RANESI (RNW Indonesia) bakal pamit.

 ”Radio Nederland Siaran Indonesia, yang telah mengudara selama 65 tahun, akan mengakhiri siarannya untuk waktu yang tidak ditentukan,” demikian kata penyiar dengan nada yang tidak penuh semangat. Dia mengungkapkan kalau penutupan itu diakhiri dengan wayang orang langsung dari studio Radio Nederland di Hilversum, Belanda.

 Setahuku, RANESI telah mewarnai masyarakat Indonesia selama 65 tahun. NRW merupakan radio yang menjadi pioner dengan membuka Siaran Indonesia. NRW membangun ikatan emosional dan kultural antara masyarakat Indonesia dan Belanda. Dibandingkan dengan radio asing lainnya, NRW jauh lebih dulu menyentuh rakyat Indonesia dan menjadi jendela Belanda dan dunia.

 Saat itu juga, aku langsung mengklik google. Aku tertambat di http://blogs.rnw.nl/ranesi-tabik/mengapa/. Entah kenapa aku sangat terkejut. ”Kalau Anda bertanya-tanya mengapa Ranesi ditutup, jawabannya adalah: politik dan uang. Jadi begini, dunia politik Belanda memutuskan untuk memotong anggaran RNW, dari 46 juta euro menjadi 14 juta euro.

 Selain krisis keuangan yang melanda Eropa, alasan kebebasan pers di Indonesia yang sudah bagus juga menjadikan RANESI ditutup! Apakah para profesor media Belanda tidak melihat kalau kebebasan pers di Indonesia sebenar sangat semu, bahkan seperti fatamorgana.

Terus terang aku sangat kecewa! Aku tidak paham dengan kebijakan politik Belanda yang memandang remeh peran RANESI. Apa para politisi Belanda tidak berpikir bahwa siapa yang menguasai media, maka dia bakal menguasai dunia? Apakah para politisi Belanda tidak memandang bahwa media menjadi jembatan penting dalam pemahaman tentang Belanda di Indonesia? Sayang sekali!

Padahal dalam buku yang pernah aku baca “Media Revolution in Europe: Ahead of the Curve” yang ditulis Karol Jakubowicz (2011: 269-270), Belanda memiliki Virtual Platform yang menekankan tentang pengembangan media baru. Hingga pada 1997, kebijakan itu dikenal dengan Amsterdam Agenda yang mendorong penelitian dan pengembangan media baru dengan mempertahankan artistik, ilmiah dan kreatiitas teknologi.

Oh, aku juga pernah membaca artikel yang berjudul “The Dutch Media Landscape” yang ditulis Piet Bakker dan Peter Vasterman dalam buku  “European Media Governance National dan Regional Dimensions” yang diedit oleh Georgios Terzis. Piet Bakker dan Peter Vasterman (2007:152) menjelaskan tujuan kebijakan media Belanda dalam menstimulasi keberagamanan media. Di Belanda juga memiliki The Dutch Press Fund yang memberikan bantuan berupa pinjaman dan subsidi kepada media. Terus, kenapa lembaga itu tidak mensubsidi RANESI!

Setahuku, Belanda merupakan negara yang mempelopori media baru dan revolusi media di dunia! Misalnya, RNW mampu memadukan antara radio, televisi dan situs berita menjadi satu kesatuan. Itulah media baru dan revolusi media. Satu syarat terpenting media baru adalah akses keterjangkauan yang luas. Dengan penutupan RANESI, konsep media baru yang diusung RNW pun menjadi pincang.

Aku Rindu RANESI!

 

 Sumber:

Buku

 Baker, Piet dan Vasterman, Peter. 2007. dalam Terzis, Gergios. European Media Governance National dan Regional Dimensions. Bristol: Intellect Books.

 Jakubowicz, Karol. 2011. Media Revolution in Europe: Ahead of the Curve. Paris: Council of Europe Publishing.

 

Internet

 http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia

 http://blogs.rnw.nl/ranesi-tabik/mengapa/

 http://www.newmediatrendwatch.com/markets-by-country/10-europe/76-netherlands

 

Profesor Stokhof Membuatku Malu Jadi Orang Indonesia!

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , — guruandikahendra @ 2:46 am

Image

Sebagai orang yang belajar Linguistik dan menggeluti dunia bahasa, aku sangat berterima kasih kepada Universitas Indonesia atas pemberian gelar Doktor Honoris Causa kepada Willem Arnoldus Laurens Stokhof atau yang akrab dipanggil Wim Stokhof pada awal Februari 2013 lalu. Terus terang, aku sangat mengapresiasi pemberian gelar DHC kepada Stokhof, selain gelar itu juga diberikan kepada Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Aku mengenal Profesor Stokhof sejak lama. Bukan karena aku pernah bertemu dengannya. Namun, aku mengetahui dari beberapa buku tentang linguistik yang ditulis Stokhof. Aku tersasar membaca beberapa hasil riset mengenai dialek dan fonetik yang ditulis Stokhof. Aku menemukan tulisannya tanpa sengaja saat mengerjakan tugas mata kuliah Sosiolinguistik dan Fonologi saat kuliah Sastra Inggris di Universitas Brawijaya Malang.

Image

Ternyata Stokhof merupakan orang asing pertama kali meneliti bahasa-bahasa di Indonesia dan mempopulerkannya di dunia internasional hasil penelitiannya. Bukan bahasa gaul yang ditelitinya. Namun, bahasa-bahasa yang hampir punah. Sungguh miris dan ironis, ketika banyak orang Indonesia bangga mampu berbahasa asing, seperti Inggris atau Belanda, tapi Stokhof justru berusaha menyelamatkan bahasa-bahasa yang semakin sedikit digunakan masyarakat lokal.

Dan Stokhof itu berkebangsaan Belanda. Orang Belanda itu memang selalu pioner! Kiprahnya di Indonesia bukan dilakukan kemarin sore. Lebih dari 40 tahun, dia telah mengabdikan diri untuk meneliti bahasa. Namanya pun begitu populer bagi linguis di Indonesia. Dia juga kerap membagikan ilmunya melalui seminar dan pelatihan bagi para peneliti dan pegiat bahasa. Sayangnya, aku belum pernah mengikuti seminarnya, karena kesibukanku.

Berkat Stokhof, aku tertarik belajar linguistik lapangan dan linguistik forensik. Meski aku hanya satu kali terlibat dalam penelitian bahasa masyarakat Badui dalam, namun aku ingin sekali bercita-cita seperti Stokhof, menjadi peneliti bahasa yang hampir punah. Sepertinya asyik, keliling ke daerah-daerah di Indonesia. Bergelut langsung dengan masyarakat dan budayanya. Pasti penuh tantangan dibandingkan bekerja di depan komputer.

Pada 2011, Association for Asian Studies, sebuah asosiasi para pakar dan mahasiswa yang tertarik dengan Kajian Asia, memberikan penghargaan atas kontribusi yang diberikan Stokhof dalam pengembangan dan memajukan kajian Asia. Hebat ya! Di kalangan para pegiat kajian Asia, Stokhof dipuji karena mempelopori forum internasional untuk kajian Asia. Kerennya lagi, dia justru memperkenalkan bahasa dan budaya Indonesia di forum internasional itu, salah satunya International Institute of Asian Studies (IIAS) di Leiden dan Amsterdam.. Kadang aneh juga, justru orang Belanda yang mempopulerkan Indonesia, bukan orang Indonesianya sendiri.

Bukan hanya bahasa dan budaya di Indonesia yang sangat dibantu oleh Stokhof, dia juga mempereat kerjasa internasional dalam bidang Kajian Islam. Wow! Dia mendirikan International Institute for the Study of Islam in the Modern World (ISIM) di Leiden. Apa saja yang dilakukannya? Dia menjelaskan pemahaman Islam di Indonesia di mata dunia dengan kacamatanya. Banyaknya berkecimpung di Indonesia, menjadikan Stokhof mampu memahami Islam yang sebenarnya yang jauh dari kekerasan dan cinta perdamaian.

Sebagai orang Indonesia, kita seharusnya introspeksi diri mengenai Keindonesian yang ada di dalam diri kita sendiri! Kita harus berkaca kepada Profesor Stokhof atas Keindonesian dalam jiwa dan kehidupannya. Setelah itu, marilah kita bangkit melakukan sesuatu untuk Indonesia dan menanamkan Keindonesian dalam jati diri kita!

Terima Kasih Profesor Stokhof telah menginspirasi Indonesia!

Sumber:

http://www.asian-studies.org/publications/Exceptional-Service.htm

Foto:

Rri.co.id

Facebook Official Universitas Indonesia Page

April 19, 2010

Translation in Science

Filed under: Uncategorized — Tags: — guruandikahendra @ 1:12 pm

Translation in Science

April 15, 2010

Commercial Revolution

Filed under: Uncategorized — Tags: — guruandikahendra @ 12:19 pm

Commercial Revolution

March 24, 2010

copywriter

Filed under: Uncategorized — guruandikahendra @ 12:17 pm

copywriter

March 23, 2010

why journalist?

Filed under: Uncategorized — guruandikahendra @ 9:46 am

Why journalist

March 21, 2010

Letter: From Morse To E-Mail

Filed under: Uncategorized — guruandikahendra @ 12:53 pm

Letter-history

March 18, 2010

me is me (revised)

Filed under: Uncategorized — guruandikahendra @ 1:18 pm

me is me

Older Posts »

Blog at WordPress.com.